CONTOH NAMA BUNGA DALAM BAHASA JAWA

 Contoh Nama Bunga dalam Bahasa Jawa


Bahasa jawa merupakan salah satu bahasa yang unik. Nha pada kesempatan kali ini kita akan mempelajari bahasa jawa tentang nama-nama bunga dalam bahasa jawa.


Nama-nama ini ntah siapa yang menemukan, karena dulu nama-nama ini mulai muncul dari zaman ke zaman.

Kita sebagai orang jawa patut untuk selalu melestarikannya agar selalu dilestarikan sampai generasi-generasi berikutnya.

Selain untuk kita pelajari materi ini juga biasanya masuk kedalam pelajaran sekolah, karena terkadang guru memberikan tugas kepada muridnya tentang nama-nama bunga dalam bahasa jawa.

Sebagai contoh nama bunga sebagai berikut :


Arane Kembang

Kembang aren diarani dangu

Kembang blimbing diarani maya

Kembang blutru diarani montro

Kembang cengkeh diarani polong

Kembang cubung diarani torong

Kembang dhadhap diarani celung

Kembang duren diarani dlongop

Kembang ganyong diarani puspanyidra

Kembang garut diarani grameng

Kembang gebang diarani krandhing

Kembang gedhang diarani ontong (tuntut)

Kembang gembili diarani seneng

Kembang glagah diarani mublak

Kembang jagung diarani sinuwun (jeprak)

Kembang jambe diarani mayang

Kembang jambu diarani karuk

Kembang jarak diarani juwis

Kembang jati diarani janggleng

Kembang jengkol diarani kecuwis

Kemabang kacang diarani besengut (bundhel)

Kembang kanthil diarani gadhing

Kembang kapas diarani kadi

Kembang kara diarani kepek

Kembang kates diarani paes

Kembang kecipir diarani cethethet

Kembang kelor diarani limaran

Kembang Kemlandhingan diarani jedhidhing

Kembang kencur diarani sedhet

kembang kimpul (tales) diarani pancal

Kembang kluwih diarani onthel

Kembang kopi diarani blanggreng

Kembang krambil diarani manggar

Kembang krokot diarani naknik

Kembang lamtara diarani jedhidhing

Kembang lombok diarani menik

Kembang melinjo (so) diarani unceng (kroto)

Kembang nangka diarani angkup

Kembang nipah diarani dongong

Kembang pandhan diarani pudhak

Kembang pace diarani nyrewenteh

Kembang pete diarani pendhul

Kembang pohong (tela) diarani ingklik

Kembang pring diarani krosak

Kembang randhu diarani karuk

Kembang salak diarani ketheker

Kembang suruh diarani drenges

Kembang tebu diarani glagah (gleges)

Kembang timun diarani diarani montro

Kembang widara putih diarani rejasa


Itulah beberapa kumpulan nama bunga / arane kembang yang terdapat dalam materi bahasa jawa.


Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat serta wawasan kepada kalian para pembaca.




RINGKASAN MASA ORDE BARU (1966-1968)

 Masa Orde Baru

   


Pada Era ini kepemimpinan Presiden Ir.Soekarno mulai terguncang, terutama karena terjadinya peristiwa tanggal 30 September 1965 atau yang biasa dikenal masyarakat sebagai peristiwa G30S/PKI. Akibat perbuatannya pun PKI mendapat akibat yang sangat fatal, yaitu dengan pembubaran Partai itu sendiri dan dinyatakan sebagai salah satu Partai/Organisasi terlarang di Indonesia.

   Peristiwa itu pun berdampak besar kepada Pimpinan Besar Revolusi dan Panglima Angkatan Perang Indonesia Yaitu Presiden Ir.Seokarno. Secara perlahan tapi pasti kekuasaan Ir.Soekarno mulai berkurang, dan bahkan dilengserkan dari kedudukannya. Hal tersebut dibenarkan dengan adanya Pengumuman Penyerahan Kekuasaan Pemerintah Kepada Jendral Soeharto.

  MPRS dalam sidang istimewanya pada tanggal 7 Maret 1967 telah menetapkan tentang perpindahan kekuasaan ini dalam Tap. MPR No. XXXIII/MPRS/1967, yang berisikan tentang perihal Pncabutan kekuasaan Pemerintah dari Presiden Ir.Soekarno, dan mengagkat Soeharto sebagai Presiden hingga dilaksanakannya pemilu.

   Pada tahun 1966-1968  merupakan masa transisi singkat dimulainya Era baru dalam pemerintahan, saat dipilih nya jendral Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia. Era tersebut menganut konsep Demokrasi Pancasila dan dikenal luas oleh masyarakat dengan sebutan "Orde Baru".  Pemerintahan Orde Baru memiliki visi utama yaitu untuk melaksanakan Pancasila dan UUD NRI 1945 secara murni dan konsekuen dalam melaksanakan setiap aspek kehidupan masyarakat. Dengan visi yang terbilang mantap itu, Orde Baru memberikan secercah harapan bagi rakyat, terutama tentang hal-hal yang berkaitan dengan perubahan politik, dari dulu yang bersifat otoriter pada masa Presiden Ir.Soekarno kini menjadi lebih Demokratis.

Harapan rakyat tersebut bukan tanpa alasan.

   Pasti kalian juga Bertanya-tanya, apa alasan rakyat mempunyai harapan tinggi kepada Jendral Soeharto, berikut beberapa alsannya,

   Presiden Soeharto sebagai tokoh utama munculnya Orde Baru dipandang oleh rakyat sebagai sosok pahlawan yang mampu membebaskan bangsa Indonesia dari keterpurukan. Hal ini juga bisa dapat dibuktikan dengan keberanian dan keberhasilan beliau dalam membubarkan PKI, yang pada masa itu dijadikan sebagai musuh utama bangsa Indonesia. Selain keberhasilan Jendral Soeharto dalam membubarkan PKI, beliau juga berhasil menciptakan stabilitas keamanan dalam negeri pasca terjadinya pemberontakan PKI dengan waktu yang terbilang singkat.

   Itulah beberapa alasan yang membuat rakyat percaya terhadap pemerintahan Presiden Soeharto.

   Karena Pemerintahan Orde Baru, pembangunan nasional dapat berjalan secara bertahap dan berkesinambungan melalui Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) dan Program Pembangunan yang tertuang di dalam GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara). Hal tersebutlah yang mendorong pembangunan nasional dapat berkembang dengan pesat di segala element kehidupan.

  Pada masa Orde Baru ini juga Lembaga Kepresidenan berperan sebagai pengontrol utama lembaga negara yang lainnya, baik itu bersifat suprastruktur (DPR, MPR, DPA, BPK, MA) maupun yang bersifat infrastruktur (LSM, Partai politik, dsb). Kebebasan berpolitik pada masa ini dibatasi dengan jumlah partai politik hanya 3 Partai saja, yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

  Tetapi beberapa peraturan pada masa Orde Baru ini bisa dikatakan membatasi atau bahkan melarang kebebasan dalam berpendapat (Freedom of speech), terbukti dengan banyaknya kasus beberapa surat kabar/majalah yang diambil lisensinya dengan alasan telah menyebarkan berita hoax tentang kepemerintahan. Para aktivis politik yang menyuarakan pendapat/aspirasi nya dalam mengeritik sistem pemerintahan pun, diberitakan ditangkap dan bahkan paling parahnya hilang secara misterius. Uraian diatas pun dapat menggambarkan kepada kita semua bahwa Visi mewujudkan Pancasila secara murni mengalami banyak pasang surut dalam penerapannya di kehidupan nyata. 

   Dari kutipan di atas kita dapat mendapat pelajaran bahwa tidak semua yang kita buat dapat disukai oleh semua orang, pasti akan mendapat pro dan kontra.

   



RINGKASAN PENYIMPANGAN PADA MASA ORDE LAMA (1959-1966)

 Penyimpangan Pada Masa Orde Lama

(1959-1966)



   Masa ini dikenal sebagai periode demokrasi terpimpin. Taukah kalian, apa itu Demokrasi terpimpin? Demokrasi terpimpin adalah sebuah sistem demokrasi yang dimana seluruh keputusan dan pemikiran berada dalam pemerintahan negara, berpusat pada pemimpin negara. Kepemimpinan saat itu dipegang oleh Presiden Ir.Soekarno

   Demokrasi terpimpin pertamakali dicetuskan oleh Presiden Ir.Soekarno disebabkan karena banyaknya gerakan separatis yang menyebabkan ketidakstabilan dalam negara Indonesia, tertundanya pembangunan dalam bidang ekonomi ini dikarenakan sering terjadinya pergantian kabinet yang pada akhirnya berdampak buruk kepada sektor pembangunan yang telah direncanakan, serta badan konstituante yang pada masa itu bertugas untuk menyusun UUD dinyatakan gagal dalam menjalankan tugasnya. Karena alasan itulah mengapa Presiden Ir.Soekarno mengambil keputusan, dengan dukeluarkannya Dekrit Presiden Pada tanggal 5 Juli tahun1959.


Baca juga lanjutan artikel tentang : Ringaksa Masa Orde Baru



Walaupun konstitusi negara indonesia ini sudah kembali pada UUD NRI Tahun 1945, namun pada kenyataan pelaksanaannya masih banyak terdapat penyimpangan terhadap UUD NRI Tahun 1945 itu sendiri.

   Beberapa hal yang menyimpang dengan Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945, diantaranya sebagai berikut:

a.  Presiden Ir. Sukarno ditetapkan sebagai presiden seumur hidup berdasarkan Tap.MPRS No. XX/1963, yang akhirnya menyebabkan kekuasaan presiden yang semakin besar dan tidak terbatas. (yang artinya presiden tidak boleh digantikan sebelum akhir hayatnya berakhir dan membuat presiden bebas menetapkan apa saja)

b. Presiden mengeluarkan penetapan Presiden No. 3/1960 tanggal 5 Maret 1960 yang    membubarkan DPR hasil pemilu 1955. (yang artinya Presiden berhak membubarkan/mencopot seseorang yang telah mencalonkan/ organisasi yang telah dibentuk oleh rakyat)

c. Presiden dapat membentuk MPRS yang beranggotakan atas anggota DPR-GR, utusan daerah, dan utusan golongan yang semuanya diangkat serta diberhentikan oleh Presiden. (yang artinya Presiden bisa tidak memberikan rakyat kecil-menengah untuk mencalonkan dan menyampaikan aspirasinya)

  

RINGKASAN PEMBERONTAKN PADA MASA AWAL KEMERDEKAAN (1945-1959)

 Pemberontakan Pada Masa Awal Kemerdekaan 

(1945-1959)


Pada periode ini, penerapan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup menghadapi berbagai masalah. Dari upaya-upaya kecil sampai bahkan penyimpangan. Upaya-upaya dan penyimpangan tersebut, di antaranya sebagai berikut:

Baca juga kelanjutannya dalam artikel : Ringkasan Penyimpangan Pada Masa Orde Lama

a. Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI)                                                                   



Madiun, 18 September 1948. Pemberontakan satu ini dipimpin oleh Musso. Tujuan utamanya dalam membentuk KPi adalah untuk mendirikan Negara Soviet Indonesia yang beridieologikan komunis, atau dapat dikatan bahwa pemberontakan tersebut akan mengganti Pancasila dengan paham komunis. Tetapi pemberontakan ini pada akhirnya dapat digagalkan.

b. Pemberontakan Darul Islam/NII


Dipimpin oleh Sekarmaji Marijan Kartosuwirjo tanggal 7 Agustus 1949. Tujuan utama didirikannya organisasi Negara Islam Indonesia (NII) adalah untuk mengganti Pancasila sebagai dasar negara dengan syari'at Islam. Tetapi, kenyataannya gerakan ini bertentangan dengan ajaran Islam sebenarnya. Upaya penumpasan pemberontakan ini cukup memakan waktu yang lama. Kartosuwiryo bersama para pengikutnya baru bisa diringkus pada tanggal 4 Juni 1962.

c. Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS)


RMS merupakan sebuah gerakan separatisme dipimpin oleh Christian Robert Steven Soumokil, dimana Dia dan anggotanya bertujuan untuk membentuk negara sendiri, yang didirikan tanggal 25 April 1950. Pulau-pulau terbesar RMS adalah Seram, Ambon, dan Buru. RMS di Ambon ternyata dikalahkan oleh militer Indonesia pada bulan November 1950, akan tetapi konflik di Seram masih berlanjut bahkan sampai Desember 1963. Kekalahan di Ambon berujung pada pengungsian pemerintah RMS ke Seram (Salah satu pulau terbesarnya), yang kemudian mendirikan pemerintahannya dalam pengasingan di Belanda pada tahun 1966.

d. Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia  / Perjuangan Rakyat Semesta
 

Dipimpin oleh Syafruddin Prawiranegara dan Ventje Sumual pada tahun 1957-1958 di Sumatera dan Sulawesi. Gerakan ini merupakan bentuk koreksi untuk pemerintahan pusat pada waktu kepemimpinan Presiden Soekarno. Soekarno pada saat itu sudah tidak bisa lagi diberikan nasihat bahkan kritik dalam menjalankan pemerintahannya sehingga terjadilah ketimpangan sosial diantara rakyat Indonesia. Pemerintah pusat pun dianggap telah melanggar undang-undang, pemerintahan yang sentralistis, sehingga proses proses pembangunan-pembangunan di daerah menjadi tertunda dan terabaikan, bahkan menimbulkan ketidakadilan dalam tiap segi pembangunan. Oleh karena itu, timbullah inisiatif dalam upaya memperbaiki pemerintahan di Indonesia, melalui organisasi PRRI/PERMESTA.

e. Angkatan Perang Ratu Adil (APRA)


Angkatan Perang Ratu Adil merupakan milisi yang didirikan oleh Kapten KNIL Raymond Westerling pada 15 Januari 1949. Westerling memandang dirinya sebagai sang "Ratu Adil" yang diramalkan akan membebaskan rakyat Indonesia dari tirani. Westerling bekerjasama dengan Sultan Hamid II , berusaha mempertahankan negara federasi yang dibentuk Belanda untuk melawan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang saat itu berada di bawah kepemimpinan Presiden Ir.Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

APRA telah melakukan serangan kudeta terhadap Pemerintahan Republik Indonesia contohnya pada 23 Januari 1950 dan berhasil menguasai wilayah Bandung serta berhasil membunuh beberapa tokoh bangsa kita, di antaranya adalah Menteri Pertahanan Sultan Hamengkubuwono IX dan Sekretaris Jendral Ali Budiardjo. Namun, kudeta yang dilancarakn Westerling mengalami kegagalan, sehingga dia terpaksa untuk melarikan diri ke Singapura. Hal tersebutlah yang merupakak salah satu fakto yang  mempercepat pembubaran Republik Indonesia Serikat dan mengembalikan ke bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1950.

f. Perubahan Bentuk Negara



Perubahan bentuk negara dari Republik Indonesia Serikat (RIS) kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sedangkan konstitusi yang berlaku adalah Undang-Undang Dasar Sementara 1950 (UUDS 1950). Dalam perjalanannya berhasil melaksanakan pemilu pertama di Indonesia pada tahun 1955 yang selama itu dianggap paling demokratis. Tetapi anggota Konstituante hasil pemilu tidak dapat menyusun Undang-Undang Dasar seperti yang diharapkan. Hal ini menimbulkan krisis politik, ekonomi, dan keamanan, yang menyebabkan Pemerintah mengeluarkan Dekrit Presiden 1959. Dekrit tersebut dikenal dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang berisi: membubarkan Badan Konstituante; Undang-Undang Dasar Tahun 1945 berlaku kembali dan Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950 tidak berlaku; serta segera akan dibentuk MPRS dan DPAS. Pada periode ini, dasar negara tetap Pancasila. Akan tetapi, dalam penerapannya lebih diarahkan seperi ideologi liberal yang ternyata tidak menjamin stabilitas pemerintahan.